Ada yang chat saya begini: “Pater… saya ini single parent. Saat masih pacaran, pasangan saya meninggalkan saya ketika saya sedang hamil, lalu menikah dengan wanita lain. Saya membesarkan seorang anak laki-laki, dan anak saya bercita-cita menjadi pelayan Tuhan. Apakah bisa, Pater?” Menurut ajaran resmi Gereja Katolik dan Magisterium, jawabannya: bisa. Gereja tidak pernah mengajarkan bahwa martabat seorang anak ditentukan oleh situasi kelahirannya atau kesalahan orang tuanya. Katekismus Gereja Katolik menegaskan bahwa setiap manusia diciptakan menurut gambar Allah (KGK 1700), sehingga setiap anak memiliki martabat yang utuh, bernilai, dan dikasihi Tuhan sejak awal hidupnya. Gereja juga berpegang pada prinsip Kitab Suci bahwa anak tidak menanggung dosa orang tuanya (Yehezkiel 18:20). Artinya, masa lalu ayah atau ibu bukanlah hukuman rohani bagi anak. Seorang anak yang lahir di luar perkawinan tetap memiliki hak penuh untuk menerima Baptisan, pendidikan iman, sakramen-sakramen, dan kesempa...
Ketaatan sebagaimana Ia taat sampai mati tergantung di kayu salib