#KISAHB Darah Kristen di Bukit Nishizaka
Kisah Nyata 26 Martir Nagasaki (1597)
>> Awal dari Cahaya
Tahun 1549, laut selatan Jepang berkilau saat kapal kecil dari Portugis tiba di Kagoshima. Di atas dek berdiri Fransiskus Xaverius, biarawan Jesuit dari Spanyol, membawa salib dan kitab suci. Ia datang tanpa pedang, hanya dengan kata-kata kasih.
Ajarannya cepat menyebar. Petani, pedagang, bahkan samurai mulai memeluk iman baru yaitu Kristen. Nagasaki menjadi pusatnya, kota pelabuhan dengan gereja, lonceng, dan sekolah. Namun bagi penguasa tertinggi Jepang, Toyotomi Hideyoshi, semua itu tampak seperti racun yang perlahan menyusup ke negaranya.
Ia melihat apa yang terjadi di Filipina ketika datang misionaris, lalu kapal perang. Dan Hideyoshi bersumpah bahwa hal itu tak akan terjadi di tanah samurainya.
>> Kecurigaan dan Amarah
Tahun 1587, Hideyoshi melarang agama Kristen. Para biarawan diperintahkan pergi, tapi banyak yang tetap tinggal sembunyi-sembunyi, berdoa di ruang gelap, membaptis anak-anak di sungai malam.
Sepuluh tahun kemudian, badai besar menenggelamkan sebuah kapal Spanyol, San Felipe di lepas pantai Jepang. Ketika pejabat Jepang menyita barangnya, kapten kapal marah dan berkata sombong: “Pendeta kami menaklukkan jiwa, lalu tentara kami menaklukkan negeri.”
Kata-kata itu menyulut amarah Hideyoshi.
Bagi sang penguasa, itu bukan sekadar ancaman, itu pengkhianatan. Dan malam itu ia memerintahkan sesuatu yang kelam: tangkap mereka semua.
>> Dua Puluh Enam Nama untuk Mati
Akhir tahun 1596, pasukan Hideyoshi menyerbu rumah biarawan di Kyoto dan Osaka. Mereka menangkap 26 orang diantaranya enam misionaris asing, tiga katekis Jesuit Jepang, dan tujuh belas umat biasa termasuk dua anak kecil berusia 12 dan 13 tahun.
Di antara mereka, ada Paulus Miki, biarawan muda asal Jepang, yang pandai berkhotbah dan dicintai umatnya. Ia tahu hukuman apa yang menanti, tapi wajahnya tenang.
Untuk mempermalukan mereka, Hideyoshi memerintahkan telinga kanan mereka dipotong separuh di depan umum. Darah menetes di salju, anak-anak menjerit, dan pasukan bersorak.
Lalu mereka diarak dari Kyoto menuju Nagasaki sejauh 800 kilometer, berjalan kaki tanpa alas, di tengah musim dingin.
>> Jalan Salib
Sepanjang perjalanan, luka mereka membeku.
Udara dingin menusuk kulit yang robek, tapi tak ada satu pun yang mengeluh. Mereka saling menguatkan, bernyanyi dalam bahasa Latin, “Te Deum Laudamus.”
Penduduk berbaris di tepi jalan sebagian mengejek, sebagian meneteskan air mata. Setiap kota yang mereka lewati menjadi saksi: ada orang-orang yang menuju kematian dengan senyum di wajah mereka.
Salah satu anak kecil, Louis Ibaraki, 12 tahun, memeluk salib kayu kecil di dadanya dan berkata pelan: “Mama, aku tak takut. Aku akan melihat Yesus sebentar lagi.”
>> Bukit Kematian
5 Februari 1597. Langit Nagasaki abu-abu. Angin laut asin menampar wajah para tawanan yang kini berdiri di atas bukit Nishizaka. Dua puluh enam salib besar sudah disiapkan. Setiap salib memiliki nama dan mereka diminta mencium kayunya sebelum diikat.
Satu per satu dinaikkan. Tangan diikat, kaki diikat, lalu tali jerami basah dililitkan agar tubuh tidak terlepas ketika darah mulai menetes.
Ketika semuanya tergantung di udara, Paulus Miki berbicara dari salibnya: “Aku orang Jepang. Aku mati bukan karena melawan negeriku, tapi karena aku mencintai Tuhanku. Aku memaafkan mereka yang membunuhku, dan berdoa agar mereka menemukan damai.”
Suara angin bercampur dengan nyanyian: “Laudate Dominum omnes gentes…” “Pujilah Tuhan, hai segala bangsa…”
Nyanyian itu terhenti ketika algojo mengangkat tombak panjang dari bambu dan besi. Tombak-tombak itu menembus sisi tubuh mereka satu per satu. Suara besi menusuk daging, udara dipenuhi jeritan yang berubah jadi doa.
Tubuh berguncang, darah muncrat ke tanah.
Anak kecil Louis tersenyum terakhir kali sebelum kepalanya terkulai. Paulus Miki menutup matanya, bibirnya masih bergerak pelan: “Tuhan, terimalah kami…”
Ketika semuanya diam, hanya terdengar suara laut dari kejauhan dan deru angin yang membawa bau besi dan darah.
>> Setelah Mereka Pergi
Hideyoshi memerintahkan agar tubuh mereka dibiarkan menggantung selama berhari-hari, supaya semua orang tahu akibat menentang perintahnya.
Tapi malam hari, penduduk datang diam-diam, mencuri tanah di bawah salib itu, tanah yang kini berlumur darah suci.
Mereka tak berani berdoa keras-keras, hanya berbisik di bawah rembulan. “Paulus Miki, doakan kami…”
Namun kematian 26 martir bukan akhir. Justru sejak saat itu, penganiayaan besar dimulai. Ribuan orang Kristen diseret keluar rumah, disiksa, direbus di mata air panas Unzen, atau digantung terbalik di lubang berisi air dan darah.
Yang selamat bersembunyi, menyamar menjadi petani atau nelayan, memeluk iman mereka dalam rahasia. Mereka disebut Kakure Kirishitan Kristen tersembunyi.
Selama dua abad, mereka berdoa tanpa gereja, tanpa kitab, tanpa imam hanya dengan doa yang diwariskan dari mulut ke mulut.
>> Warisan di Bukit
Tiga abad kemudian, dunia baru tahu bahwa di bawah larangan dan pedang, iman itu tak pernah mati. Ketika Jepang akhirnya membuka diri lagi, para misionaris menemukan ribuan keluarga di Nagasaki yang masih berdoa dengan nama yang sama: Paulus Miki.
Mereka tidak punya salib, tapi menggenggam kayu kecil yang sudah rapuh, peninggalan dari leluhur yang disalibkan. Di Bukit Nishizaka kini berdiri monumen batu, dan setiap tahun lonceng berdentang di sana, mengenang dua puluh enam orang yang memilih mati daripada mengingkari imannya.
Langit Nagasaki tetap sama seperti empat abad lalu hanya lebih tenang. Tapi jika kau berdiri di bukit itu saat senja, kadang angin membawa samar suara mereka: “Laudate Dominum…” Nyanyian yang lahir dari penderitaan, dan tak pernah padam.